Seleksi PENTAS PAI Lampung Selatan Dipersoalkan, Orang Tua Peserta Kecewa

LAMPUNG SELATAN — Pelaksanaan seleksi Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (PENTAS PAI) kategori Fashion Show tingkat Kabupaten Lampung Selatan yang digelar di Masjid NU Way Lubuk, Kecamatan Kalianda, Rabu (30/9/2026), menuai kekecewaan dari salah satu orang tua peserta.

Kekecewaan tersebut disampaikan Fidela Adisti Kurnia, orang tua Azzura Hilya Banafsa Shirin, siswi kelas II SDN 1 Way Urang, Kecamatan Kalianda.

Fidela mempertanyakan hasil penilaian dalam kompetisi tersebut. Menurutnya, penampilan Azzura dengan kostum daur ulang yang cukup kompleks justru tidak memperoleh juara maupun penghargaan dalam seleksi tingkat kabupaten.

Padahal, sebelumnya Azzura berhasil meraih Juara 1 Fashion Show Islami pada seleksi PENTAS PAI tingkat Kecamatan Kalianda dan berhak mewakili Kecamatan Kalianda ke tingkat kabupaten. Prestasi tersebut tercatat dalam pemberitaan sebelumnya mengenai seleksi tingkat kecamatan yang berlangsung 19 September 2026.

“Kalau alasannya Zura enggak menang karena keberatan, kenapa mereka pakainya tema baju daur ulang? Barang daur ulang itu memang berat. Anak saya membawa siger sekitar satu meter, tetapi tidak mendapatkan juara sama sekali,” ujar Fidela.

Menurut Fidela, kostum yang dikenakan Azzura bukan sekadar pakaian biasa. Kostum tersebut mengusung konsep kearifan lokal Lampung dengan bahan daur ulang dan sebelumnya telah mengantarkan Azzura menjadi juara pertama di tingkat Kecamatan Kalianda.

Fidela juga menilai penampilan Azzura saat berada di atas panggung tetap maksimal meskipun menghadapi kondisi lintasan yang menurutnya kurang ideal.

Ia mengatakan, Azzura sempat mengalami kendala ketika berjalan karena kondisi area catwalk yang menggunakan permukaan tanah, rumput dan karpet merah dengan kondisi yang dinilai tidak sepenuhnya rata.

“Kalau anak saya tidak menang karena keserimpet gaunnya, itu karena catwalk-nya tanah, beralaskan rumput dan karpet merah, sementara tanahnya bergelombang. Itu pun anak saya masih perform dengan anggun,” katanya.

Fidela mempertanyakan apakah kondisi lokasi catwalk turut menjadi faktor dalam penilaian peserta. Menurut dia, aspek teknis lokasi semestinya juga menjadi perhatian penyelenggara agar seluruh peserta memperoleh kesempatan tampil dalam kondisi yang relatif sama.

Persoalkan Standar Penilaian

Selain kondisi lintasan, Fidela juga mempertanyakan standar penilaian yang digunakan dalam kategori Fashion Show.

Menurutnya, penilaian dalam fashion show semestinya mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari konsep dan tingkat kerumitan kostum, kemampuan peserta membawakan busana, ekspresi, narasi, penggunaan alas kaki hingga keseluruhan penampilan.

Ia menilai Azzura memiliki sejumlah unsur tersebut ketika tampil di atas panggung.

“Penilaian model itu yang pertama dari rumitnya kostum, pembawaan kostum, cara ekspresi wajah, narasi, heels dan nilai penambahannya ada di wajah dan warna kulit. Zura punya semua itu,” ungkap Fidela.

Ia mengaku semakin kecewa karena menurutnya sejumlah orang yang hadir di lokasi kegiatan justru memberikan respons positif terhadap penampilan Azzura.

“Semua orang yang melihat Zura bilang ini pasti juara satu, ternyata tidak dapat apa-apa,” katanya.

Fidela juga mempertanyakan hasil kompetisi setelah melihat peserta yang menurutnya memiliki pengalaman modeling justru tidak memperoleh juara.

“Masa anak-anak model tidak ada yang menang satu pun, padahal yang biasa ikut model. Sedangkan yang enggak pernah ikut lomba dan event-event malah jadi juara,” ujarnya.

Namun, penilaian tersebut merupakan pandangan pribadi Fidela sebagai orang tua peserta. Belum ada keterangan resmi dari dewan juri maupun panitia yang menjelaskan dasar penilaian, bobot setiap kategori, serta alasan penetapan pemenang dalam seleksi tingkat kabupaten tersebut.

Dari Juara Kecamatan, Berakhir Tanpa Gelar di Kabupaten

Sebelumnya, Azzura menjadi Juara 1 Fashion Show Islami tingkat Kecamatan Kalianda. Saat itu, ia tampil menggunakan kostum daur ulang bertema “Cuamangan” atau tradisi makan bersama yang mengangkat kearifan lokal Lampung.

Kostum tersebut dibuat dari bahan sederhana, termasuk kertas bungkus nasi dan sendok plastik, serta dilengkapi properti pendukung. Penampilan tersebut mendapat perhatian dalam seleksi tingkat kecamatan dan mengantarkan Azzura menjadi wakil Kecamatan Kalianda ke tingkat kabupaten.

Dengan demikian, polemik yang muncul bukan semata mengenai menang atau kalah, melainkan menyangkut transparansi standar penilaian dan pemahaman peserta maupun orang tua terhadap mekanisme penjurian.

Fidela berharap panitia dapat memberikan penjelasan mengenai indikator penilaian yang digunakan dalam kategori Fashion Show tingkat Kabupaten Lampung Selatan.

“Yang kami harapkan bukan karena anak saya harus menang. Kami hanya ingin penilaian dilakukan secara jelas dan adil, sehingga anak-anak dan orang tua bisa memahami apa yang menjadi dasar keputusan juri,” ujarnya.

PENTAS PAI sendiri merupakan ajang pembinaan peserta didik dalam bidang pendidikan agama Islam. Pada seleksi tingkat Kecamatan Kalianda sebelumnya, terdapat sejumlah cabang yang diperlombakan, termasuk MTQ, MHQ/Tahfidz, pidato, kaligrafi, azan dan Fashion Show Islami.

Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari panitia penyelenggara maupun dewan juri terkait keluhan Fidela mengenai mekanisme penilaian Fashion Show tingkat Kabupaten Lampung Selatan.

Keterangan dari panitia dan dewan juri diperlukan agar publik mendapatkan gambaran utuh mengenai kriteria penilaian, bobot masing-masing aspek, kondisi lintasan, serta dasar penetapan pemenang dalam kompetisi tersebut. (Red)

Eksplorasi konten lain dari TRUSTED-NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca